12.4.17

Hidup Mewah

Suatu waktu Bapak atau Ibu saya pernah bilang (saya lupa Bapak atau Ibu yang bilang), "Kalau kita lagi gak punya uang, jangan bilang kalau kita miskin.". Saya lupa alasannya apa, pokoknya kalau terucap dari bibir saya, "Aduh, Mbak Mona lagi miskin nih.." kesan yang saya ingat adalah saya perlu siap menerima sambitan emak babe. Tentu saja saya tidak disambit beneran. Bapak Ibu saya tidak suka nyambit orang. Paling mendapat tatapan tajam (dari emak) plus sedikit ceramah (dari babe). Hehehe..

Kembali ke persoalan "miskin". Apa ya yang membuat saya teringat soal ini? *berpikir keras*

Oh iya, saya sedang berpikir tentang kemewahan atau kalau dalam Bahasa Inggris (biar kelihatan millenial), 'priviledge'. Saya baru ngeh kalau saya selama ini hidup dalam kemewahan.

  • Saya masih punya uang. Untuk beli makanan, air minum, mainan, buku, nonton di bioskop, belanja online, bayar sewa apartemen, beli skincare di "Toko Badan", sesekali bisa bayar makan rebusan sayur dan jamur di restoran, atau bisa mendadak beli tiket pesawat untuk melancong. 
  • Saya masih punya 'rumah'. Biarpun cuma sewa apartemen seluas 30 m2, itupun berdua sama adik saya. Tapi ini apartemen nyaman aja tuh. Saya tidur di kasur sendiri, punya kamar sendiri. Ada internet dan TV kabel pula.
  • Saya masih kerja. Kerjanya juga bukan yang kerja fisik. Saya masih bisa menyombongkan diri untuk bilang, "Aset gw di sini nih, cuy!" (sambil noyorin jidat sendiri). 
  • Saya masih bisa pergi ke mana-mana. Mulai naik KRL, angkot, bus kota, kereta jarak jauh, sampai pesawat terbang. 
  • Saya masih bisa beragama. Bisa kepikiran kalau belum shalat misalnya. Bisa shaum dan punya makanan untuk berbuka. Bisa bayar zakat. Bisa nyicil buat kurban. Bisa naik haji. 
  • Saya masih bisa dianggap warga negara. Punya KTP. Bisa milih walikota, gubernur, presiden, sampai anggota DPR dan DPRD. Bisa menyalonkan diri juga kalau mau.
  • Ini yang menurut saya paling menyenangkan. Saya masih bisa belajar. Masih bisa menikmati belajar dengan tenang. Belajar dengan perut terisi. Belajar tanpa mikir uang SPP atau masa depan. Belajar tanpa mikir konsekuensi. Ditambah, pekerjaan saya saat ini kebetulan sering memaksa saya (mau gak mau) belajar juga.

Selain hal-hal yang disebut di atas, saya juga masih bisa mengeluh. Ngeluh tentang cuaca, tentang gaji yang gak pernah cukup, tentang KRL yang kayak pepesan ikan teri, tentang macet (keluhan klasik, harus disebut dong), tentang pekerjaan yang tak kunjung usai, tentang kantor yang berantakan, tentang sewa apartemen yang mahal, tentang harga-harga apapun yang makin mahal, tentang masa depan, tentang masa lalu, tentang masa kini, semua deh.

Ya ya ya.. Apa yang saya jelaskan di atas masih bisa disangkal, didebat, atau dibahas lebih lanjut. Tapi intinya, kesimpulan saya malam ini (karena di malam lain mungkin kesimpulannya akan berbeda) adalah saya ini orang kaya. Hidup dalam kemewahan. Bapak dan Ibu saya ada benarnya. Saya gak berhak untuk bilang miskin. Kalau saya masih berani untuk bilang "Lagi miskin nih..", secara tidak langsung saya mengolok-olok mereka yang hidupnya tidak mendapatkan kemewahan seperti saya. Kurang ajar banget saya kalau masih begitu.

Lain kali, kalau lagi tidak punya uang, ya bilang saja, "Gak punya uang nih..". Mudah, kan! Kan! Kan?

11.4.17

Mengapa gajah dan langit?

Sederhana.
Saya suka gajah.
Saya suka langit.

Kenapa saya suka gajah?
Karena gajah tak pernah lupa. Besar, tulus, dan konon tak pernah lupa. Matanya nampak sedih. Mungkin karena tak pernah berhasil melupakan semua kesedihan yang pernah ia rasakan.

Kenapa saya suka langit?
Karena langit itu luas. Biru, jingga, maupun kelabu. Kadang teduh, kadang juga terlalu terik.
Langit juga menenangkan, walaupun sesekali membuat hati resah.

Saya lupa sejak kapan saya suka dengan gajah dan langit. Tapi ya sudah, tidak perlu diingat sejak kapan, yang penting sekarang saya suka gajah dan langit.

Baiklah.

14.7.15

Satu Dasawarsa dalam Kata

Baru saya sadari, blog saya ini sudah berusia sepuluh tahun. Selamat ulang tahun yang ke-10, wahai blog saya!

Sepuluh tahun. Semakin ke sini semakin terlantar. 

Walaupun begitu, blog ini adalah media yang cukup istimewa bagi saya. Saya sudah menulis di blog ini bahkan sebelum saya memiliki akun Facebook, Twitter, Tumblr, Wordpress, Instagram, Livejournal, apalagi Path. Sepuluh tahun lalu, Google belum mengambil alih banyak kehidupan sosial saya di dunia maya. GMail pun masih cukup eksklusif (Yahoomail lebih meraja ketika itu). Tol Cipularang baru beberapa bulan disahkan. Bisnis pool-to-pool travel mungkin masih dalam kandungan. Kereta api Jakarta-Bandung masih berjaya (sebelum kehilangan pamor dan kemudian naik lagi pamornya). Jembatan Pasupati baru diresmikan. Bandung di akhir pekan pun belum terlalu ramai. 

Sepuluh tahun. Begitu banyak hal yang terjadi. Perubahan terjadi baik nyata maupun kasat mata. Perubahan yang jauh lebih signifikan dibanding sepuluh tahun sebelumnya. Melihat ke belakang, perubahannya cukup membuat saya sedikit terhuyung dan ingin segera rebah. Sepuluh tahun lalu, tak terpikirkan saya akan berada di posisi seperti sekarang. Tak ada rencana akan menjadi saya yang seperti saat ini. Begitu banyak hal yang terjadi. Hal yang membuat situasi dan kondisi menjadi lebih baik dan juga lebih buruk. 

Blog ini telah menemani saya selama sepertiga usia saya. Membaca postingan lama saya di blog ini, saya tahu bahwa perubahan juga terjadi pada diri saya. Tapi pun, ada hal-hal yang justru tidak berubah, bahkan saya rindukan dari diri saya sepuluh tahun yang lalu. Terkadang memang perlu melihat diri kita di masa lalu untuk memahami atau menghadapi diri kita di masa kini dan masa depan. 

Saya sungkan untuk berjanji kembali aktif mengisi blog ini. Sepuluh tahun ini mengajarkan saya bahwa ada hal-hal yang lebih nyaman untuk disimpan sendiri dan tidak untuk dibagi lewat media publik semacam ini. Internet membuka banyak hal, hal baik dan hal tidak baik. Saat ini Internet lebih sering menjadi semacam kebisingan dalam hidup saya. Membuat saya enggan untuk ikut membisingi dunia yang lebih bising dari pada dunia yang terlihat oleh mata.

Cobaan dan ujian dalam hidup itu akan selalu ada, akan selalu dipertanyakan, dan takkan pernah ada habisnya untuk ditelaah. Semoga blog ini akan selalu bermanfaat dalam mewadahi itu semua. Untuk sepuluh tahun yang lalu dan yang akan datang. Semoga tetap setia menulis, biarpun tulisan itu tak perlu dibaca khalayak ramai.

Salam, 

 ~ Mona Luthfina

20.10.14

Hari ini Bersejarah

Hari ini begitu banyak rasa yang terasa, kata yang ingin dikata, dan pikiran yang terpikirkan. 

Hari ini bersejarah. 

Bukan hanya karena kirab budaya, konser rakyat, atau syukuran rakyat yang mengantar Jokowi, bahkan bukan hanya karena Jokowi. 

Bagi saya, hari ini adalah momentum perpindahan era. Serah terima tampuk kepemimpinan negeri ini bagi saya bagaikan serah terima era antar-generasi. Ini adalah waktu kami. Maka dari itu, apa yang saya lewati seharian ini menjadi lebih lebih lebih terasa bermakna.

Bapak saya bilang, "Belum juga bekerja, sudah dielu-elukan. Tunggu lima tahun, kalau sudah memberikan bukti, Bapak baru percaya."

Tentu saja banyak orang yang berpendapat seperti Bapak saya. Setiap orang tentu boleh berpendapat. Namun, sekali lagi menurut saya, ini bukan soal Jokowi menjadi presiden. Jokowi hanya sebagian kecil dari itu.

Ini bagaikan orang tua saya berkata, "Mona, Indonesia sekarang ada di tanganmu. Lakukan apa yang kau inginkan padanya. Ini saatmu."

Indonesia bukan hanya milik Jokowi. Maka dari itu, bukan hanya Jokowi yang harus menjaga. 
Indonesia bukan hanya tanggung jawab Jokowi. Maka dari itu, bukan hanya Jokowi yang harus bekerja.
Indonesia bukan hanya masa depan Jokowi. Maka dari itu, bukan hanya Jokowi yang harus berencana.

Hari ini bersejarah.

Karena hari ini, Indonesia diserahkan pada kita. Generasi kita*. Sumpah Jokowi-JK, secara tidak langsung, adalah sumpah kita juga. Kontrak kerja bagi setiap warga negara Indonesia yang harus dilaksanakan dan dijaga.

Kita dapat melakukan apapun terhadap negeri ini. Apapun. Merusaknya, membenahinya, mempermalukannya, membanggakannya. Apapun.

Hari ini bersejarah.

Karena hari ini saya merasa era baru dimulai. Indonesia di tangan saya dan generasi saya.

Tak terasakah? Paling tidak lima tahun ke depan, Indonesia milik kita, kawan. Mau kalian apakan? Dipercayakan begitu saja pada Jokowi? Tanpa dikawal dan diawasi? Lalu, apa yang akan kau lakukan? Apa yang bisa kita lakukan?

Tidak ada yang bilang itu mudah. Jokowi pun sadar akan itu. Pertanyaannya, apakah kita sadar? Apakah saya sadar? Bahwa saat ini adalah masa kita, masa saya?

Maka dari itu, mari kita bekerja. Nahkoda kita sudah meminta kita bekerja, mari kita bekerja. 

Merinding. Semangat. Takut. Cemas. Gembira. Banyak rasa jadi satu.

Hari ini memang bersejarah.

Selamat bekerja, kawan-kawan!

Tabik, Presiden Jokowi!



Salam, 

~ Mona Luthfina


*siapapun yang merasa segenerasi dengan saya :P

25.5.14

Aso Kusuma

Sudah berbulan-bulan saya menunda untuk menghubungi beliau. Selalu ada alasan yang muncul ketika saya berniat untuk menengok, menelepon, atau sekedar mengirim pesan. Sampai kemarin sore saya dihubungi oleh teman saya, Edwin. Dikabari bahwa beliau sudah pergi.

Selepas kabar itu rasa penyesalan, kehilangan, dan sedih luar biasa muncul seketika. Hati saya tak sanggup menampung semua emosi yang muncul bersamaan membuat tangis tak tertahankan.

Begitu banyak emosi terasa, namun tak muncul satu kata pun yang mampu menggambarkan apa yang saya rasa ketika itu (dan bahkan sampai saat ini menulis).

Dalam hidup saya, beliau merupakan bagian besar. Terutama ketika kami kuliah. Beliau selalu memastikan kami tidak lapar dengan memberi kami 'happy hour' atau makan gratis. Sepertinya beliau memperhatikan kegilaan kami melewati hari saat kuliah. Tak cuma makan gratis. Beliau mendengarkan semua keluh kesah kami, mulai dari tentang gosip sampai tentang pacar. Boleh dibilang, beliau tahu semua cerita tentang anak-anaknya di kampus, kami, para mahasiswanya. Beliau adalah dosen yang dekat dengan mahasiswanya. Di kampus, di himpunan, di lab, beliau dihormati dan disayangi. Banyak keluh kesah semasa kuliah, bahkan setelah kerja pun, saya ceritakan pada beliau.

Sepanjang kami mengenal beliau, memang sudah sering bolak-balik rumah sakit. Saya tahu pada akhirnya hari itu akan muncul. Dimana beliau dipanggil oleh-Nya. Toh memang kematian adalah sesuatu yang pasti. Namun, ketika kepastian itu datang, tak kuasa rasa kehilangan yang begitu besar muncul diiringi penyesalan yang tak kunjung padam.

Saat ini, yang bisa saya lakukan adalah berdoa dan mengucap kata perpisahan.

Source: Andri Madian, TI 2003

Selamat jalan, dosen kesayangan kami, guru yang kami hormati, dan ayah kami di kampus, Bapak Aso Kusuma. Beliau adalah orang baik. Terima kasih atas semua didikan dan makna hidup yang telah Bapak ajarkan. Sampai jumpa di dunia sana. Semoga amal ibadah beliau diterima di sisi Allah dan semoga Bu Wiwik (istri beliau) dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran. Amiin.


Salam, 

Mona Luthfina

P.S. Pak Aso Kusuma meninggal dunia karena serangan jantung di RS Boromeius Bandung pada tanggal 24 Mei 2014 pukul 16.15 WIB, di usia beliau yang ke-63 tahun. 

5.4.14

Election Day

Mona's Song for This Year:
Norah Jones - My Dear Country

Selamat memilih teman-teman. Semoga tahun ini menjadi awal dari masa depan cerah Indonesia. Amiin.



'Twas Halloween and the ghosts were out,
And everywhere they'd go, they shout,
And though I covered my eyes I knew,
They'd go away.

But fear's the only thing I saw,
And three days later 'twas clear to all,
That nothing is as scary as election day.

But the day after is darker,
And darker and darker it goes,
Who knows, maybe the plans will change,
Who knows, maybe he's not deranged.

The news men know what they know, but they,
Know even less than what they say,
And I don't know who I can trust,
For they come what may.

'cause we believed in our candidate,
But even more it's the one we hate,
I needed someone I could shake,
On election day.

But the day after is darker,
And deeper and deeper we go,
Who knows, maybe it's all a dream,
Who knows if I'll wake up and scream.

I love the things that you've given me,
I cherish you my dear country,
But sometimes I don't understand,
The way we play.

I love the things that you've given me,
And most of all that I am free,
To have a song that I can sing,
On election day.


Salam,

 ~ Mona Luthfina

18.1.14

Karyawati dan Pelacur

“Saya menyadari bahwa seorang karyawati lebih takut kehilangan pekerjaannya daripada seorang pelacur akan kehilangan nyawanya. Seorang karyawati takut kehilangan pekerjaannya dan menjadi seorang pelacur karena dia tidak mengerti bahwa kehidupan seorang pelacur menurut kenyataannya lebih baik dari kehidupan mereka. Dan karena itulah dia membayar harga dari ketakutan yang dibuat-buat itu dengan jiwanya, kesehatannya, dengan badan, dan dengan pikirannya. Dia membayar harga tertinggi bagi benda-benda yang paling bernilai rendah. Saya tahu sekarang bahwa kita semua adalah pelacur yang menjual diri dengan macam-macam harga, dan bahwa seorang pelacur yang mahal jauh lebih baik daripada seorang pelacur yang murahan. Saya pun tahu, bahwa apabila saya kehilangan pekerjaan, apa yang hilang itu hanyalah gaji yang kecilnya menyebalkan, hukuman yang sanksinya saya dapat baca tiap hari di dalam mata para pejabat eksekutif yang tinggi apabila mereka memandang kepada para karyawati yang pangkatnya lebih rendah, tekanan yang menghinakan dari tubuh laki-laki terhadap tubuh saya apabila saya mengendarai bis, dan sedang berbaris dalam barisan pagi hari di muka kamar kecil yang terus-menerus penuh pengunjungnya.“ 
~Firdaus dalam ‘Perempuan di Titik Nol‘, Nawal el-Saadawi.

Salam,

~Mona Luthfina

14.1.14

Haus Perhatian

Ibu saya adalah seorang dokter. Internis tepatnya. Ibu saya sangat mencintai pekerjaannya. Ibu saya juga sangat mencintai keluarganya. Tapi bagi Ibu saya, pekerjaan seringkali akan menjadi prioritas pertama dalam hidupnya. Setidaknya di mata saya. Bukan karena tidak peduli dengan keluarga, tapi karena memang lebih banyak orang yang membutuhkan Ibu saya di luar. Kurang lebih.

Entah sejak kapan, saya juga tidak ingat. Saya selalu tahu bahwa kami (saya dan adik saya) akan selalu menjadi nomor dua. Saya lalui masa kecil, remaja, dan dewasa saya seperti itu dan itu tidak apa. Bapak pun di masa kecil, remaja, dan dewasa muda kami bekerja di Jakarta. Pergi Selasa shubuh, pulang Jumat malam. Bertemu hanya di akhir pekan.

Beberapa tahun ini, kami bahkan menjadi nomor tiga. Nomor dua yang baru adalah sekolah dan yayasan yang Ibu kelola di rumahnya. Untuk informasi, di rumah orang tua saya, Ibu dan Bapak membangun lembaga pendidikan Quran Nun Learning Center dan Sekolah Alam Gaharu. Menjadi prioritas ketiga pun saya merasa tidak apa. Pertama karena saya sudah terbiasa tidak bergantung. Kedua karena paling tidak Ibu dan Bapak merasa bahagia di hari tuanya. 

Tentu saja, terkadang perihal Ibu saya lebih memprioritaskan pekerjaannya menjadi apa-apa. Bukan. Bukan ketika pulang sekolah hanya disambut pembantu. Bukan ketika membuat pekerjaan rumah tak dibantu. Bukan ketika pulang pergi sekolah sendiri. Bukan ketika melihat teman lain dibawakan bekal makanan masakan Ibunya. Bukan pula ketika harus ambil rapor sendiri, atau bahkan ketika harus daftar sekolah atau ini itu sendiri. 

Bahkan ketika semua hal di atas menjadi keluhan, saya merasa bersalah. Saya saat ini adalah bentukan Ibu Bapak saya. Kemandirian saya saya akui adalah bisa karena biasa. 

Ohya, jadi kapan saya merasa apa-apa dengan menjadi prioritas kedua (atau ketiga)? Saya pun tidak ingat. Karena (akhirnya) saya tahu (biarpun belum paham, belum mengerti, dan belum pernah merasakan), bahwa bagi Ibu saya, rasa bersalah itu tidak akan hilang. Rasa bersalah karena menjadikan anaknya bukan prioritas pertama. Ibu saya tidak bilang bahwa beliau merasa bersalah. Namun biarpun tak terkatakan, saya tahu bahwa rasa itu tidak akan hilang.

Ada satu masa di mana saya tidak ingin bekerja jika sudah menikah. Ada satu masa di mana saya tidak ingin (bersifat) menjadi seperti Ibu saya ketika saya dewasa. Saya tidak ingin menjadi seseorang yang menjadikan keluarganya prioritas kedua atau ketiga. Tapi saat ini, ide bahwa tidak bekerja setelah menikah cukup menakutkan. Ide untuk bergantung pada orang lain bahkan lebih menakutkan. 

Ah ya.. Akhirnya saya ingat. 

Perihal Ibu saya menjadikan keluarganya di prioritas kedua atau ketiga adalah apa-apa adalah karena hal itu membuat sepanjang hidup saya kesepian dan haus perhatian. Saya yakin adik saya pun begitu, dengan caranya (yang lebih sering tidak saya mengerti). Teman selalu ada, datang dan pergi. Keluarga besar begitu banyak, datang dan pergi. Traveling selalu dilakukan, sesekali. Bertemu orang baru selalu terjadi. Pekerjaan dan sekolah selalu ada. Tapi pada akhirnya, di akhir hari. Saya pulang ke rumah yang kosong. 

Ibu dan Bapak belum pulang.

Saat ini, saya memang belum mengerti. Tapi saya yakin, seperti yang sudah-sudah. Saya akan menemukan jawabannya. Kali ini, tolong jangan paksa saya untuk mengerti, biarkan saya untuk merasa kesepian dan haus perhatian.



Salam, 

 ~ Mona Luthfina

6.12.13

Madiba

I have to write this..

Saya tulis postingan ini, setelah sekian lama blog ini tak tersentuh, untuk menjadi pengingat bahwa hari ini adalah hari yang sebaiknya tak terlupakan.

Hari ini dimulai dengan berita meninggalnya Nelson Mandela. Tidak banyak berita tentang wafatnya seorang tokoh dunia yang berhasil membuat saya menangis. Gus Dur mungkin salah satu dari yang sedikit itu.

Pada awalnya saya tidak mengerti mengapa berita kematian Madiba (salah satu panggilan Nelson Mandela) ini bisa membuat saya hampir tak kuasa menahan air mata ketika di dalam TransJakarta. Sempat terlintas, PMS-kah? Tapi jelas tidak. Tapi untungnya saya berhasil tidak menangis di TJ. Walaupun saya yakin wajah saya sudah berkerut-kerut dan mata saya berkaca-kaca saat membaca beritanya.

Kemudian sampai di kantor, pekerjaan dan ini itu sudah menunggu membuat saya tak sempat berpikir tentang berita ini. Sampai kembali lagi ke rumah, membuka laptop, memeriksa timeline Twitter.. dan semua hashtag, berita, video, dan tribute tentang Mandela kembali berdatangan.

Seperti yang Presiden Afrika Selatan, Presiden Zuma katakan,
"Although we knew that this day would come, nothing can diminish our sense of a profound and enduring loss."
Membayangkan bahwa Madiba menghabiskan 27 tahun hidupnya (seumur hidup saya) di penjara, lalu memperjuangkan kemerdekaan bagi negaranya. Melawan ketidakadilan. Menjadi tokoh yang diandalkan rakyatnya dengan selalu menjaga sisi humanisnya. Madiba berjuang tidak dengan senjata tapi dengan hati dan otaknya. Menyadari bahwa di dunia ini semua orang itu setara kedudukannya. Beliau adalah pejuang dan juga pahlawan. Tidak hanya bagi Afrika Selatan, tapi bagi seluruh warga dunia.

Seringkali, kemerdekaan, perdamaian, kesejahteraan, keamanan, kenyamanan, dan banyak hal yang baik lainnya disepelekan (taken for granted) terutama oleh kami, generasi muda. Karena kami tidak merasakan susahnya para pahlawan mendapatkan dan memperjuangkan itu semua untuk kami. Terbiasa untuk mendapatkan kebebasan dengan gratis, membuat kepala kami besar.

Jadi mungkin, hari ini adalah salah satu cara-Nya untuk mengingatkan saya, bahwa kita sebagai manusia harus hidup penuh dengan syukur. Saling menghargai. Saling menghormati. Meneruskan, menjaga, dan mengembangkan. Tak cuma di bibir, tapi juga dimaknai di hati. Jadi mungkin, hari ini saya menangis karena itu. Lupa bahwa di setiap kebahagiaan selalu ada kerja keras, tak hanya dari satu orang tapi mungkin ratusan bahkan jutaan orang di baliknya. Lupa bahwa udara bebas (walaupun berpolusi) yang kita hirup ini adalah hasil dari perjuangan Kakek Nenek kita. Untuk itu, kita harus menjaganya untuk anak cucu kita.

Mungkin juga saya menangis karena tersadar dari lupa. Lupa bahwa saya hidup tidak hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk orang lain. Paling tidak, untuk generasi selanjutnya. Semoga saya dapat ikut memberi andil menciptakan Mandela-Mandela lain di Indonesia.. dan mampu bercerita pada mereka bahwa di dunia ini, pernah hidup orang hebat bernama Nelson Mandela.

Saya tutup postingan ini dengan mengutip pembukaan dari konstitusi Afrika Selatan (seperti UUD-nya):
"We, the people of South Africa,
Recognise the injustices of our past;
Honour those who suffered for justice and freedom in our land;
Respect those who have worked to build and develop our country; and
Believe that South Africa belongs to all who live in it, united in our diversity."
Thank you and rest in peace, Madiba. 

Salam, 

~ Mona Luthfina

17.7.13

Demografi Siaga

Akhirnya saya ditendang dari satu demografi oleh teman baik saya. Demografi apakah itu?

Demografi yang memungkinkan kami untuk siap pergi (survey) kapanpun diminta. Kami bersedia atas nama jalan-jalan gratis dan melengkapi roster provinsi yang sudah dijejakkan oleh kaki kami. Demografi di mana siap untuk bekerja berbasis proyek. Dibayar tak tentu kapan terserah klien. Siap dipanggil kapanpun, siap bekerja dari mana pun, siap menjawab dengan fasih tentang pekerjaan ketika ditanya. 

Pekerjaan yang seringkali dimulai dengan, "Mon, ada kerjaan ini nih.. Sekian bulan, bayarannya segini. Mau gak?" dan diakhiri dengan, "Mon, lo mau dibayar cash atau transfer?". Huakhahaha..

Sebut saja demografi ini adalah Demografi Siaga, memanfaatkan status mahasiswa (makanya gak lulus-lulus, walaupun akhirnya kami berdua berhasil salaman dengan Pak Akhmaloka di Sabuga, 12 Juli yang lalu :P). Kebetulan kami berdua, ketika masih di demografi yang sama, berdomisi di Bandung Raya, sehingga mudah bagi kami untuk koordinasi dan komunikasi langsung.

Namun, terutama sejak Desember 2012, saya mulai selingkuh dari demografi ini. Terbuai dengan mimpi Jakarta dan sampai akhirnya menetap agak lama di kota besar ini. Alhasil, H-1 wisuda (akhirnya) S2, saya ditendang dari Demografi Siaga. 

Tidak banyak pemuda yang berminat pada demografi ini. Alasan utama adalah ketidaknyamanannya. Pemasukan tidak jelas, kadang ada kadang tidak. Masa depan tidak bisa direncanakan dengan pasti. Harus siaga setiap saat. Tidak nyaman setiap saat. Bahkan kami sampai pada titik di mana sangat nyaman dengan ketidaknyamanan kami. Saya ingat bagaimana rasanya hidup dengan tabungan minus (ya bukan berarti sekarang jadi plus banget juga sih) dan tidak berpikir tentang rencana satu tahun ke depan. Apalagi rencana 5 tahun atau 10 tahun ke depan. Bisa dibilang, fase hidup saya saat itu adalah fase berkeliaran tanpa arah.

Tak berarti demografi ini tidak memiliki nilai positif. Keindahannya justru terletak di ketidaknyamanannya. Saya dipaksa untuk beradaptasi, terutama secara pikiran. Melihat berbagai hal dari berbagai sisi. Tidak secara parsial. Bahwa segala sesuatunya memiliki berbagai bagian yang penting yang menjadikannya utuh. Seperti tak bisa menyatakan gajah adalah gajah hanya karena memiliki belalai. 

Lalu, apa yang menyebabkan pada akhirnya saya hengkang ditendang dari demografi ini? 

Karena pada akhirnya pula, semua manusia butuh visi, membutuhkan masa depan, dan harus memilih prioritas. Tak bisa selalu hidup untuk hari ini, tapi juga harus mempersiapkan masa depan, dan meraih mimpi. Klisenya seperti itu. Praktisnya. Life is catching up. :)

Hmmmm... Kalau boleh sok keren, saya pun akan berkata, "Demografi Siaga tak lagi menantang." Hahaha.. Saatnya pindah dari zona nyaman (yang tidak nyaman itu) ke zona tidak nyaman lain (yang nampak nyaman tapi belum tentu senyaman yang terlihat) dan belajar dari situ.

Toh, konon manusia pada dasarnya adalah makhluk pembelajar yang tak pernah lulus dari Universitas Kehidupan sampai diwisuda oleh-Nya.

Teman baik saya bagaimana? Ah, biarkan saja ia, karena teman baik saya pun tak lama lagi juga akan hengkang dari Demografi Siaga dan bahkan hengkang (sesaat) dari negeri ini. Menghadapi ketidaknyamanannya yang baru di negeri orang. :)

Dipikir-pikir, mungkin tanpa sadar saya sudah merencanakan untuk hengkang karena tahu toh pada akhirnya teman baik saya ini akan pindah negeri. Saya tidak suka ditinggal, masih dan tidak akan pernah suka. Jadi, lebih baik saya hengkang duluan. Hahaha.. Manja!

Sip ah..

Salam, 

 ~ Mona Luthfina

20.4.13

Sendiri

Jepi, melamun menatap padang rumput
mandiri /man·di·ri/ a dl keadaan dapat berdiri sendiri; tidak bergantung pd orang lain: sejak kecil ia sudah biasa -- sehingga bebas dr ketergantungan pd orang lain;

Sendiri itu berbeda dengan mandiri.

Saya rasa "mandiri" adalah sesuatu yang tidak masuk akal untuk saya saat ini. Saya rasa "sendiri" adalah kata yang lebih tepat.

Bunyi jam dinding, kecoak di pojok rumah, deru motor di luar rumah, obrolan tetangga, terdengar lebih jelas.

Mengatur waktu sendiri, mengatur jadwal harian sendiri, mengatur target sendiri. Sendiri bukanlah mandiri. Karena semakin sendiri, semakin tidak mandiri. 

Bukan berarti sendiri itu tidak menyenangkan. Semua berada di bawah kendali sendiri, semua diatur sendiri. Tapi justru itulah yang membuat kesendirian itu semakin mengenaskan.

Mungkinkah tinggal di rumah sendiri, di kota sendiri, di negara sendiri bisa jadi lebih terasa kesendiriannya dibanding tinggal di negara lain yang sekalian jauh?

Namun, bukan kehadiran orang lain yang dibutuhkan orang yang sedang sendiri. Sendiri membutuhkan kehadiran DAN empati DAN bimbingan. Bukan pertanyaan lain atau kecaman lain atau penilaian lain.

Tantangan saat sendiri adalah sepi. Sepertinya "sepi" dan "sendiri" sepakat untuk bersahabat.

Nampaknya, saya tidak dibesarkan untuk menjadi mandiri, saya dibesarkan untuk kuat menghadapi kesendirian. Kedua orangtua saya dulu mungkin pernah merasa sesendiri saya sekarang dalam hidup mereka.

Setiap manusia memiliki fasenya masing-masing. Sekarang adalah waktunya saya untuk menjadi kuat saat sendiri agar kelak, saya lebih menghargai artinya kehadiran manusia lain.

Sendiri, semoga tidak selalu berarti sepi.

Salam, 

 ~ Mona Luthfina

P.S. Ah, ini postingan pertama di tahun 2013. Nampaknya menulis menjadi sesuatu yang juga tidak masuk akal untuk saya. :)

14.12.12

My Bestfriend's Wedding

Nda & Opank, picture taken by (lupa, antara saya atau Diah)
"I have a good feeling with our relationship." ~Inanda, 19.9.2011 (on her relationship with her 'now-husband' boyfriend)

And her feeling was and still is right. :)

Dua minggu lalu, sahabat saya menikah. Menciptakan fragmen memori baru dalam hidupnya. You don't have to worry, dear.. You have a lifetime to make new memories.. :)

Have a wonderful marriage, Nda & Opank. Selalu bahagia kapan pun dalam kondisi apa pun. Diberkahi dan dijaga Allah di mana pun kalian berada, diberi keturunan dan keluarga yang saling menghargai dan menyayangi.. Banyak doa untuk kalian..

Salam,

~ Mona Luthfina

P.S. Sebenarnya kepikiran post untuk Nda udah dari zaman kapan, tapi tetap gak kepikiran mau nulis apa, antara bakal terlalu panjang atau terlalu melow.. Hehehe.. 

1.11.12

Kredit untuk Mahasiswa


Di Kompas hari ini (Kamis, 1 November 2012), terbaca satu wacana berjudul "Dirancang, Kredit untuk Mahasiswa". How do I think about it?

Setahu saya (dan ini berdasarkan semua TV Series yang saya tonton :P You see, not every 'useful' knowledge come from so-called heavy books. In dramas, movies, or fiction books, there are always new knowledge to discover, that if we know how to digest the information. :P), di Amerika sistem ini sudah berlaku, bahkan seringkali utang sekolah menjadi salah satu beban yang dipikul bahkan sejak hari pertama kuliah. Tapi ya, menurut saya, wacana kredit untuk mahasiswa jauh lebih baik daripada wacana pendidikan gratis. Mengapa?
  1. Karena pendidikan tidaklah murah, sangat mahal malah.
  2. Pemerintah memang bertanggung jawab atas pendidikan warga negaranya, tapi begitu pula dengan si warga negara itu sendiri, dan kedua orang tuanya. 
  3. Pendidikan memang salah satu hak asasi manusia, tapi seiring dengan diberikannya hak, diberikan pula kewajiban.
  4. Pendidikan gratis akan membuat (terutama di Indonesia) si pelajar atau mahasiswa akan seenaknya. Karena tidak ada rasa memiliki atau tidak ada rasa beban di sana. 50 ribu diberi begitu saja tidak semanis 50 ribu hasil kerja keras.
  5. Pendidikan itu mahal, tapi tidak seharusnya semua biaya dibebankan kepada pelajar/mahasiswa/orang tua. Jika ini terjadi, bisa jadi pendidikan akan menjadi prioritas ke sekian setelah kebutuhan sandang, pangan, dan papan.
  6. Pendidikan itu mahal, tapi tidak juga semua biaya harus dibebankan pada pemerintah. Bayangkan kalau semua biaya pendidikan pelajar dan mahasiswa di Indonesia dibayar oleh pemerintah. Bisa (semakin) gak maju-maju kita. :P
  7. Pendidikan itu sebuah tanggung jawab bagi siapapun yang memilih untuk terlibat ke dalam sistemnya (yeah, easier said than done!). 

Untuk itu, saya sangat mendukung Kredit untuk Mahasiswa, dengan catatan, besarnya masuk akal. Ada persentase yang menjadi kewajiban pemerintah untuk memenuhinya dan sisanya adalah kewajiban si mahasiswa untuk memenuhinya.

Idealnya (ini kalau ngomong ideal ya). Sampai SMA, biaya pendidikan dibagi antara orang tua dan pemerintah. Biaya kuliah dibagi antara mahasiswa (dalam bentuk utang tanpa bunga, dengan klausul jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, semisal mahasiswa tersebut meninggal dunia, utang dianggap lunas.) dan pemerintah (anggap saja investasi masa depan negara).

Utang, mau tidak mau memaksa mahasiswa HARUS menyelesaikan sekolahnya. Semakin lama, semakin banyak utangnya (Go to the corner, Mona! Kamu disetrap!).

Aish.. I shud finish my master study as in immediately. Hayah..


Salam, 

 ~ Mona Luthfina

10.10.12

Does It Matter?

Saya rasa, manusia memang terlihat dalam kondisi terbaiknya saat sedang mengerjakan apa yang menjadi hasrat hidupnya. Saya akui saat melihat seseorang yang fokus akan apa yang sedang dikerjakan, banyak rasa muncul. Antara kagum, iri, termotivasi, dan terinspirasi.

Apa passion saya?

Pertanyaan yang seringkali tak dapat saya jawab dengan mantap. Seringkali saya akan menjawab, "Buku". Tapi, saat ini saya merasa saya tidak berhak dan bersalah untuk menjawab pertanyaan itu lagi dengan jawaban yang sama. Seperti perasaan telah mengkhianati sesuatu. Itu mungkin yang saya rasakan terhadap "buku" sebagai passion saya.

Dan saya menjadi kehilangan arah. Ketika hidup sudah tidak lagi seharusnya berpikir tentang rencana sehari-hari, saya masih berpikir dalam jangka waktu yang pendek. Tidak termotivasi pula untuk memikirkan jangka panjang. Indikasi ada yang salah? Saya juga merasa seperti itu. Saya tahu dan sadar sepenuhnya bahwa waktu tidak akan pernah menunggu.

Beberapa waktu lalu, seorang teman baik berkata, "Kenapa ya kayaknya waktu terasa lebih cepat, padahal yang dilakukan sama. Tapi terasa lebih pendek." Tak terasa terpikir juga. Saya tak punya jawabannya kala itu, saat teman saya ini melontarkan wacana waktu yang lebih pendek, dsb, dsb. Setelah tak kuasa terpikir beberapa hari, mungkin waktu terasa begitu cepat berlalu di saat tidak ada kemajuan terjadi adalah karena kita terlalu sibuk melakukan hal-hal yang tidak penting. Doing things that actually don't matter. Ah, saya juga ingat kala itu teman saya berkata, "Mungkin karena prioritas aja kali ya berubah." 

Prioritas. Saya mencapai kesimpulan bahwa saat kita sibuk dengan hal-hal yang tidak penting tapi kita anggap penting, waktu akan terasa begitu cepatnya. Tak berarti saat kita sibuk dengan hal yang penting kita akan merasa waktu berjalan lambat juga sih. Waktu tetap takkan menunggu siapapun. Perbedaan dari keduanya adalah penyesalan. Akan selalu ada rasa sesal yang menyergap ketika saya menyadari telah menghabiskan waktu untuk hal-hal yang seharusnya tidak saya pikirkan. Seringnya, saya akan membuat berbagai macam pembenaran akan apa yang telah saya lakukan. Di saat, semua pembenaran itu akan semakin membuat saya merasa bahwa apa yang telah saya lakukan itu semakin dangkal dan tidak penting. Huakhahahahaha...

Saya (mungkin) sudah mencapai di satu titik di mana tidak seharusnya ada di fase ini lagi. Postingan seperti ini pun bagi saya sudah seperti lagu lama yang terdengar dari radio yang rusak. Bosan dan ingin cepat-cepat menggantinya dengan radio yang baru, tapi tak ada dananya. Huakhahahaha.. Saya sudah seharusnya tahu apa yang saya butuhkan, inginkan, dan apa yang saya kejar. Sudah tidak saatnya lagi memakai alasan quarter-life crisis ketika umur pun sudah jauh dari seperempat abad. :P

Seperti biasa, saya si manusia yang selalu belajar di akhir waktu. Deadliner sejati, atau ini hanya sekedar pembenaran tambahan dari apa yang masih saya lakukan sekarang.

Ah, ribet sekali..

Salam, 

 ~ Mona Luthfina

5.9.12

Money is Scary

Saya tidak pintar mengelola uang, saya akui itu. Tidak pintar menabung, tidak pintar pula mencari uang banyak. Saya cenderung takut pada uang. Karena uang dapat membuat situasi yang asalnya positif menjadi negatif dalam sekejap mata. Uang juga dapat mengubah hubungan darah dan daging menjadi sekedar darah dan daging, tanpa hati. Uang dapat mengubah persahabatan menjadi permusuhan. Bagi saya, uang memiliki kemampuan yang mengerikan.

Money is power, I admit that is true. Buat saya, uang jugalah kekuatan. Menjadi kaya berarti memberikan kesempatan bagi kita untuk berbagi. Terlalu sering saya mendengar Ibu berkata, "Haduuuh... Ibu lagi gak punya uang nih.." tapi tiba-tiba bisa membuat acara untuk TPQ-nya (Taman Pendidikan Qur'an) untuk 100 orang lebih. Ibu saya pintar mencari uang, tapi pintar juga menghabiskannya dalam waktu singkat. Alhamdulillahnya, sebagian besar uang Ibu saya ya untuk hal-hal semacam tadi: sekolah, Quran, menyekolahkan anak orang, dsb. 

Iri? Tidak juga. Tidak terpikir juga untuk iri. Bukan, bukan karena saya riya atau sombong, tapi lebih karena terbiasa. Saya dan adik saya, sedari kecil bisa dibilang tidak seperti anak Dokter pada umumnya. Mungkin sekitar akhir SD atau awal SMP saya mulai tahu aliran uang di rumah. Semisal, Ibu Bapak sedang menyicil rumah, menyicil mobil, atau gaji Ibu sekian, gaji Bapak sekian, sampai berapa pengeluaran rutin bulanan. Bagaimana tidak, saya sudah dititah untuk pergi ke bank untuk urusan setor-menyetor oleh Bapak sejak SMP. Tanpa disadari, Ibu dan Bapak membuat saya (dan mungkin adik saya) tahu kondisi keuangan keluarga, sehingga mau tidak mau jadi tahu diri. 

Tapi ada satu hal yang akan selalu diiyakan saat saya meminta, buku. Saya ingat suatu hari, saya mungkin masih kelas 4 SD, Bapak mengajak saya dan adik saya ke Gramedia. Bapak menghabiskan uang Rp 400 ribu untuk membeli buku (mungkin sekitar Rp 1 juta sekarang). Buku untuk saya, untuk adik, dan untuk Bapak tentunya. Fragmen memori itu yang memicu saya menjadi book-shopaholic. Boros untuk urusan buku.

Ah, kenapa saya jadi meracau..

Saya ini boros. Uang tak akan pernah awet di tangan saya. Boros terutama untuk buku. Tapi entah kenapa, akhir-akhir ini saya sering dipercaya untuk memegang uang orang lain. Uang orang lain itu lebih mengerikan daripada uang sendiri. Apalagi uang abu-abu. Boleh dikata, uang abu-abu adalah uang yang jenisnya paling mengerikan di antara semua jenis uang. Uang abu-abu itu semacam uang yang dilempar oleh para calon investor kepada para verifikator (yang memeriksa lahan dan dokumen-dokumennya), dengan dalih uang transportasi. Uang abu-abu itu semacam uang yang diberikan dengan dalih menganggap saya dan kawan saya Restu seperti cucunya, anggap saja uang saku, ketika kami memverifikasi lahan dan kelengkapan dokumennya. 

Kami (saya dan Restu) pernah pada satu masa di mana kami dilempar uang dari balik jendela mobil, menemukan uang di plastik yang isinya jeruk, diberi map dengan isi uang, hampir diberi jam tangan muahaaal, hampir diberi kunci motor (ini pengalamannya Restu sih), disekap selama 20 menit untuk diberi uang. Setelah dipikir-pikir, semuanya mengerikan. Mengerikan karena ternyata budaya itu adalah biasa dalam urusan birokrasi. 

Takutnya, saking biasnya uang abu-abu itu, saya jadi tidak tahu apakah uang di tangan saya ini halal atau haram. Heu.. 

Insya Allah tidak apa selama saya diamanahi uang jelas, semacam uang untuk beli bunga duka cita, atau uang untuk beli kado, dsb, dsb. Tapi kalau sampai datang waktunya saya harus berdekatan lagi dengan uang abu-abu, semoga Allah memberikan kemudahan bagi saya untuk menghadapi dan melawan semua setan dan nafsu yang lewat ketika itu. Amiin..

Percayalah, uang abu-abu itu sangat menarik bahkan terkadang tidak terlihat abu-abu. Tapi putih butek macam broken white (hayah.. mulai gak jelas). Kalau dikumpul-kumpul, uang abu-abu yang pernah ditawarkan pada saya dan Restu, lumayanlah buat nyicil rumah. Hahahaha.. 

Ah, mengapa yang mengerikan dan abu-abu itu sangat menarik sih..

Salam, 

~ Mona Luthfina

14.8.12

Jaga Image

Anak itu representasi orang tuanya. Hebatnya si anak mewakili hebatnya si orang tua. Bebalnya anak mewakili ketidakhandalannya si orang tua. Kurang lebih seperti itu. Untuk itu, sebagai anak, harus disadari bahwa di pundaknya terletak nama kedua orang tuanya, nama keluarganya. Saat dicoreng nama seseorang, tercoreng pulalah nama kedua orang tuanya. Saat diharumkan nama seseorang, terharumkan pulalah nama kedua orang tuanya. 

Saya belum pernah menjadi orang tua, jadi saya hanya bisa bercerita dari perspektif seorang anak.

Menjaga citra itu seringkali dimaklumi sebagai sesuatu yang dangkal dan menghabiskan uang. Tapi sejak lama saya menyadari, bahwa citra itu penting dalam cakupannya. Semisal. Saya sebagai anak seorang dokter (Ibu) dan seorang cendekiawan muslim (Bapak) harus menjaga suatu citra tertentu dan membawa nama mereka dengan sebaik-baiknya.

Dokter adalah sebuah profesi terhormat. Didapatkannya tidak mudah dan membutuhkan energi yang besar. Untuk itu harus dijaga dengan cara yang terhormat pula. Profesi Ibu membuat kami tidak boleh terlihat susah atau menderita atau merana atau miskin. Karena dokter adalah profesi yang diandalkan oleh masyarakat. Seseorang yang diandalkan ya harus terlihat layak untuk diandalkan. Bahkan ketika memang kami sedang merana, susah, dan menderita, kami tidak boleh menunjukkannya. Sehingga mau tidak mau harus pintar mensiasati keadaan. Hehehe.. Menjaga citra itu tidak selalu mahal kok. Terhormat tidaklah berarti kaya. Kaya tidak pula berarti terhormat. Dua hal yang sayangnya terlalu sering dikaitkan, padahal dua hal yang sangat berbeda. Bapak pernah berkata, "Jangan pernah berkata kalau kita miskin. Rezeki itu datang dari mana saja, dalam bentuk yang berbeda-beda.". Sedangkan Ibu sering berkata, "Apapun kondisi kita, harus selalu disyukuri.". Terhormat. Selalu merasa cukup dan bersyukur atas apa yang ada.

Bapak saya seumur hidupnya (bahkan sampai sekarang) terus belajar mengenai Islam. Entah itu hukumnya, entah itu sejarahnya, entah itu cerita-ceritanya, entah itu gaya hidupnya. Buku adalah istri pertama Bapak dan Ibu akan selalu menjadi istri kedua (ini kata Ibu saya loh). Bagi saya, Bapak adalah seorang cendekiawan. Semua pertanyaan terkait dengan Islam dan kehidupannya saya tanyakan pada Bapak. Ini mengapa saya seringkali mengandalkan kalimat, "Bentar ya, kutanya Bapak dulu.." untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar Islam dari teman-teman saya. Karena Bapak adalah seorang cendekiawan. Mana boleh anak-anaknya terlihat tak beragama. Akan nampak sia-sia Bapak belajar seumur hidupnya kalau tiba-tiba kedua anaknya terlihat berperilaku tak sepatutnya. Jadi, mau tidak mau, saya dibiasakan untuk berperilaku sesuai dengan citra yang terlanjur melekat. Citra ini lebih susah dijaga dibanding citra sebagai anak seorang dokter. Islami. Menjalani gaya hidup yang islami. Susah. :)

Kedua citra yang diturunkan dari Bapak dan Ibu itu bukanlah citra yang dibangun dengan sengaja. Tapi citra yang melekat dari profesi yang dipilih oleh Bapak dan Ibu. Sehingga sejak lahir, selain mewarisi darah dan ciri-ciri fisik kedua orang tua saya, saya juga mewarisi kedua amanah yang harus dijalankan. Seperti saat mereka mewarisi amanah dari kedua orang tua mereka. Beban? Tidak juga. Lebih sering citra ini menjadi sebuah tameng yang melindungi saya dan menjaga saya untuk selalu berada di jalan yang seharusnya. Semoga, jalan yang benar.

Terhormat dan islami. Dua citra bawaan yang harus terus dijaga oleh saya dan adik saya sampai akhir hayat. Sudah berhasil? Entahlah, saya lebih suka menjawab, "work in progress". Saya pun masih terus dalam proses belajar. Toh namanya juga hidup, penuh pembelajaran dan dinamika. Gagal atau jatuh itu wajar. :)

Tsaaaaahhh.. Jaga image banget sih. Ya, anggap aja seperti itu. Kebetulan, saya dapatnya image yang bagus-bagus untuk dijaga. Kan lebih enak kalau harus menjaga citra yang baik-baik daripada citra yang buruk. Hehehe.. Walaupun tentu, yang baik itu lebih sering susah dijaganya daripada yang kurang baik. :P

Sip ah..

~ Mona Luthfina

28.7.12

Doa

A Praying Moslem in Istiqlal Mosque
credit: Getty Images
"Aku selalu mendoakanmu, Mona.."

Seorang sahabat berkata seperti itu tidak lama ini. Hati seketika menjadi hangat. Hangat karena diingat dalam bentuk sebuah doa. Alhamdulillah.. :)

~ Mona Luthfina

26.7.12

27

Let's see..

Di keluarga saya, kami tidak pernah merayakan ulang tahun dengan pesta. Tidak pernah beli kue ulang tahun. Tidak menunggu jam 12 malam bersama. Jarang memberikan kado. Paling yang kami lakukan hanya makan bersama, itu pun sekalian (sekalian ulang tahun pernikahan Ibu Bapak, ulang tahun Ibu, ulang tahun saya, dan ulang tahun adek yang semuanya berdekatan. Hehehe..). Sehingga, saya dan adek terbiasa untuk tidak melakukan itu semua (kado, kue, dan menunggu jam 12 malam). 

Sehingga, kalau harus menunggu jam 12 malam untuk bisa dibilang ulang tahun, maka dalam 27 tahun hidup saya, bisa dihitung dengan jari di satu telapak tangan berapa kali saya melakukannya. Hahahaha..

Tahun ini agak berbeda tanpa sengaja..

Saya memutuskan untuk ke Jakarta sehari sebelumnya. Bertemu dengan seorang teman lama, impulsif. Tidak biasanya saya pergi keluar kota tanpa perencanaan. Setiap keluar kota, selalu saya usahakan sekalian sekalian. Ternyata keimpulsifan saya berbuah manis. Jadi, teman yang saya temui ini lupa kalau saya mau ulang tahun. Baru ingat ketika diingatkan oleh teman saya yang lain (yang kami temui kemudian dan ternyata ingat kalau saya mau ulang tahun). 

Ngobrol ngalor ngidul.. Lalalala, lilili.. Sengaja menunggu jam 12 malam. Tanpa kue, tanpa lilin, gelap-gelapan di sebuah coffee shop (yang memang sudah mau tutup), dengan sisa satu cookie pendamping Coffee Latte yang kami pesan. Sisa satu cookie tadi pun akhirnya didaulat menjadi birthday cookie. 

Jam 12 teng. "Selamat ulang tahun, Mona!" Foto bersama cookie, foto bersama teman.. Simpan cookie di meja.. Lalala lililili... Tanpa sadar, mbak coffee shop sudah mengambil sisa satu cookie tadi, karena coffee shop-nya mau tutup. Pas sadar, tak ada cookie tersisa. Huakhahahahaha...

Pulanglah saya ke rumah sepupu saya (tempat adek saya tinggal sekarang).

Lalala lilili, cuci muka, shalat, tarawih, tarik nafas.. Tidur.

Jam 4 pagi. Sahur, ambil nasi, ambil lauk. Tiba-tiba muncul sepupu saya membawakan chocolate cake-nya Dapur Cokelat lengkap dengan lilinnya.. Antara makan sahur, tiup lilin, makan sahur lagi, motong kue, ditelepon Bapak Ibu, makan sahur, dan makan kue (maklum, imsak menjelang). Lengkap sudah pesta ulang tahun saya. Hehehe..

Manis ternyata. Melewatkan jam 12 malam bersama teman-teman lama dengan berbagai macam cerita yang membuat otak saya kesenangan. Sahur pertama di Ramadhan tahun ini yang tidak sendiri, bersama keluarga (adek dan sepupu saya). Mendapat ucapan penuh doa dan selamat via telepon, whatsapp, twitter, dan SMS. Didoakan dengan tulus oleh Ibu dan Bapak.

Hari ini menyenangkan. Alhamdulillah, impulsif ke Jakarta memberikan banyak hal sekaligus untuk dipelajari, dinikmati, dirasakan, disyukuri, dan disemangati. Untuk itu, terima kasih banyak untuk teman saya yang meminta saya ke Jakarta. Kehendak Allah itu memang tak ada yang tahu. Di situasi dan kondisi lain, saya tidak semudah itu untuk mengiyakan untuk segera ke Jakarta. 

Doa tahun ini tetap detail seperti tahun-tahun sebelumnya. Tapi satu doa yang terasa sangat perlu, biarpun nampak ngawang. Semoga dapat menjadi Mona yang selalu lebih baik dan mampu membahagiakan orang lain di sekitarnya. Amiin..

Terima kasih. Sebenarnya, sejak lama saya selalu berpikir, semua doa dan ucapan selamat di ulang tahun saya itu seharusnya diucapkan kepada Ibu saya. Kenapa? Karena hari ini, adalah untuk Ibu. 27 tahun lalu Ibu saya dengan sakit, peluh, tangis, dan kasih sayangnya melahirkan saya ke dunia. Jadi sangat wajar jika setiap tanggal ini menjadi hari Ibu untuk saya. :)

Senangnya.. :)

~ Mona Luthfina

P.S. Mencari teman untuk makan Chocolate Cake. :P

23.7.12

Bercerita

Terutama dua tahun terakhir, saya semakin pintar untuk tidak bercerita. Maksudnya begini.. Setiap ada masalah, entah kenapa, Allah selalu saya kasih cerita dari orang lain dulu. Jadi semisal saya ingin mengeluh tentang sesuatu, tetiba saja ada yang cerita tentang masalahnya yang membuat masalah saya (dalam perspektif saya) jadi nampak dangkal. 

Awalnya begitu.. Berulang kali terjadi, jadi terbiasa untuk tidak bercerita. Bercerita loh ya..bukan mengeluh. Mengeluh sih selalu, siapa juga sih manusia yang lepas dari keluhan. Caranya saja yang berbeda. Entah itu teriak-teriak sendiri di rumah, nangis menggila, nyanyi macam orang kalap, joget gak jelas (mulai mengkhawatirkan gak sih saya? Belum.. Oh ok..).

Lebih banyak yang saya jadikan samsak ya playlist lagu saya. Lihat saja bentuk pelampiasan saya apa. Kekurangannya, JERAWAT. Boleh dibilang ini stress terpendam, sila saja.. Saya akui ini stress terpendam. Hehehe..

Dulu saya sering berdalih pada diri saya sendiri, selama ada satu orang di dunia yang bisa kita pegang untuk bercerita, maka saya akan baik-baik saja. Sayangnya, satu per satu... *wordless* (tak bisa mendapatkan padanan kata yang cocok untuk ini). Saya juga sudah menyetel diri saya juga sih, ketika suatu kondisi dari suatu hubungan terlewati (sebut saja salah satunya melangkah ke fase kehidupan selanjutnya), maka kemudian akan ada batasan baru yang muncul. Batasan yang tidak bisa juga saya lewati seenaknya. 

Itulah mengapa, setiap pernikahan, setiap kelahiran, saat ini selalu menjadi situasi manis pahit bagi saya. Ketika itu terjadi, tarik nafas, melangkah pelan, dan tersenyum. Mentok. Ha!

Terutama dua tahun terakhir, saya semakin pintar untuk tidak bercerita. Tapi semakin saya sadari bahwa bercerita itu perlu. Bercerita. Bukan sekedar rangkuman, bukan hasil rephrasing dan pemikiran mulai dari latar belakang sampai batasan masalah. Bercerita saja, sesederhana cerita itu sendiri.

Hampir 27 tahun dalam hidup saya, saya dibiasakan untuk mengamati, beradaptasi, meresap, dan menganalisis. Saya tidak dibiasakan untuk bercerita. Percaya atau tidak, untuk menyampaikan sebuah wacana dalam hidup saya kepada kedua orang tua saya, saya harus menyusun mulai dari latar belakang masalah sampai tujuan dan manfaat dengan terstruktur. Bukan karena terpaksa dan disuruh, tapi lebih karena saya tahu banyak hal yang menjadi pikiran Ibu dan Bapak dalam satu waktu, sehingga saya tidak mengizinkan diri saya untuk tidak jelas. 

Pada akhirnya, saya menjadi pintar untuk menyampaikan maksud (walau masih harus dipikirkan lama, pernah sepertinya saya berpikir berbulan-bulan untuk menyampaikan satu hal pada Ibu dan Bapak). Karena itulah, ketika saya butuh untuk menjadi tidak jelas tanpa alasan, saya tidak boleh tidak jelas tanpa alasan. Akhirnya jadi kesal sendiri karena sekali lagi menjadi anak yang selalu mengecewakan orang tuanya atau menjadi sahabat yang tidak memenuhi permintaan sahabatnya. 

Overload. Terlalu sering menjadi pengamat dan penonton di pinggir lapangan, mengakibatkan begitu banyaknya informasi yang masuk ke otak dan hati yang harus diproses dan dirasakan. Melelahkan. Tidak jelas juntrungannya, jadi terlihat tidak jelas tanpa arah, diiringi kemampuan bercerita yang mengalami degradasi. Akhirnya merutuki diri sendiri, tingkat kepercayaan diri menurun signifikan. Lingkaran setan.

Jadi apa yang saya pelajari?

Bercerita itu wajib. Cari samsak bercerita yang siap seumur hidup. Konsekuensinya adalah saat menjadikan sesuatu atau seseorang sebagai samsak, siaplah menjadi samsak.

Masalah kita itu kadarnya akan selalu sepele, karena pada dasarnya kita tahu solusinya apa. Permasalahan intinya adalah mau atau tidak kita mengeluarkan dan melaksanakan solusinya.

Rajin-rajin beribadah. Biar gak stress.. Hehehehe..

Terus belajar dan memperbaiki diri. Saat diri kita merasa diri kita tidak cukup baik, ya mungkin memang tidak cukup baik. 

Banyak-banyak berdoa. Sebenarnya manusia itu selalu membutuhkan pendengar. Allah Maha Pendengar, Dia akan selalu mendengarkan hamba-Nya yang dalam susah maupun senang. Jadi kalau ingin bercerita, berceritalah pada Yang Menciptakanmu.

Sekian. 

~ Mona Luthfina

19.7.12

Evolusi Bandung: Baleendah - Pasteur

Pernah naik angkot dari Baleendah ke Pasteur? Saya pernah.

Perjalanan Baleendah - Pasteur itu paling cepat naik mobil pribadi/taksi. Sekitar 30 menit. Tentunya lebih mahal. Naik angkot? 2 jam. :))

Ada berbagai macam jalan dan trayek angkot untuk rute ini, tapi yang paling mudah dan paling sedikit pergantian angkotnya adalah naik angkot Dayeuh Kolot - Kalapa, lalu Kalapa - Sukajadi, dan terakhir Sederhana - Cimindi. Dijamin sampai depan rumah Saya di Sukagalih. Lama aja.. 2 jam! :))

Naik angkot untuk saya selalu menarik. Saya berkenalan dengan angkot di Bandung sejak kelas 1 SD (rumah saya di Sukagalih, dekat Pasteur, SD saya di Sasakgantung, dekat Kebon Kalapa). Setiap hari selama 9 tahun (SMP saya SMPN 10 Bandung di sebelah terminal Kebon Kalapa. Hehehe..) saya mengambil trayek angkot yang sama. Mulai dari 500 perak sekali pergi sampai harga terakhir di kelas 3 SMP itu 3500 rupiah. Sekarang, 5000 rupiah (10 kali lipat dari 20 tahun yang lalu).

Ingin mengenal Bandung? Sesekali boleh dicoba rute angkot dari Baleendah - Pasteur. Sepanjang perjalanan seperti melihat film Evolusi Bandung dalam waktu 2 jam. Mulai dari Kabupaten Bandung, dimana orang-orang membuang sampah dengan nyamannya di trotoar jembatan. Daerah yang tidak terlihat wujud selokan atau got, sungai yang penuh dengan sampah (bukan berarti sungai di Kota Bandung sendiri bersih sih ya..), debu yang masya Allah tebalnya, pohon yang begitu sedikit dengan dedaunan berwarna cokelat. Bukan karena sedang meranggas, tapi karena tebalnya debu. 

Melewati jembatan tol, artinya masuk ke Kota Bandung. Siapapun yang menganggap Bandung itu kota yang cantik, nyaman, dan bersih, pastinya baru menyambangi Bandung Utara. Bandung bagian Selatan (yaitu bagian selatan dari rel kereta api yang membelah Kota Bandung) itu numpuk senumpuk-numpuknya. Semua tumplek di situ. Pertokoan, manusia, motor, mobil, kaki lima, angkot, manusia, gedung-gedung, sampah, rumah-rumah, manusia. Semua. Salah satu pemandangan yang membuat saya terkagum-kagum sekaligus tidak habis pikir adalah jemuran di pinggir Jalan Dewi Sartika, di depan Yogya Kepatihan (toko Yogya paling besar di Bandung), di tengah kota, di mana tak terlihat adanya perumahan, di mana cuma ada toko kecil, toko besar, dan gedung perkantoran. Jemuran di pinggir jalan. Sudah pasti cepat kering, terjamin tidak bersih (lha wong dilewatin ribuan kendaraan dalam sehari dengan asap knalpotnya yang tahu sendirilah). Satu angkot berekspresi sama. Bandung oh Bandung.. :))

Melewati rel kereta api, akan terasa perbedaannya. Bahkan penumpang angkot pun berubah karakternya. Dari yang semula banyak berbincang dalam Basa Sunda, sekarang banyak pakai Bahasa Indonesia. Mulai banyak yang tekun dengan Blackberry-nya. Penumpang yang asyik sendiri dengan gadget di pangkuannya. Angkotnya pun cenderung lebih bersih. Entah kenapa.. :))

Walaupun tidak bisa dikatakan juga kalau Bandung bagian Utara ini bersih dan teratur, namun jelas terasa lebih bersih dan teratur daripada saudaranya di bagian Selatan. Bangunan banyak yang cantik, jalan lebih bersih, trotoar lebih banyak yang ramah pejalan kaki (walau masih jauh dari nyaman untuk ukuran standar kenyamanan). Pohon lebih banyak, debu lebih sedikit. 

Kenapa ya?

Apa karena petinggi-petinggi Kota Bandung (dan Jawa Barat) bekerja dan tinggal di Bandung bagian Utara-kah? Atau karena 66 tahun yang lalu saat peristiwa Bandung Lautan Api yang terbakar hanya bagian Selatan? Atau karena orang kaya Bandung sebagian besar ada di bagian Utara?

Ah, entahlah.. Perjalanan Baleendah - Pasteur saja sudah cukup membuat saya sampai rumah ingin mandi dan tidur, haruskah berpikir tentang kenapa begini kenapa begitu di Kota Bandung? :))

~ Mona Luthfina